Compaspost.com Beberapa waktu yang lalu, kita dikejutkan dengan pemberitaan tentang penyerangan oleh oknum yang mengatasnamakan salah satu kelompok terhadap Majelis Zikir yang dikelola Ustad Arifin Ilham di Sentul. Oleh kelompok yang berafiliasi dengan jaringan asing lalu mengaitkan kejadian ini dengan isu perseteruan antara Suni versus Syiah. Tak jarang beragam opini pun bermunculan. Tulisan ini tidak fokus mencermati kejadian tersebut, akan tetapi menelaah lebih jauh tentang siapa dan apa motif mereka menyebarkan isu sektarian akhir-akhir ini di Indonesia.
Anda tentu telah menyimak apa yang dikatakan Leon Panetta tentang niat Amerika untuk menggeser poros (re-balance) ke kawasan Asia Pasifik dengan mengerahkan 60 persen dari total aset Angkatan Laut mereka pada 2020. Sebuah pergesaran besar dari Timur Tengah, Selatan Asia lalu Asia Pasifik dengan mengancam geopolitik. Inilah pergeseran “zona perang” dari kawasan Timur Tengah (Irak, Suriah), Asia Selatan (Afghanistan), hingga Afrika Utara (Libya).
Setidaknya ada beberapa bumbu isu yang dimainkan Barat untuk sebuah negara apabila pemimpinnya tak lagi selaras dengan kepentingan nasional mereka, maka pemerintah tersebut harus disingkirkan. Adapun isu-isu tersebut adalah demokrasi, tiran, dan Syiah-Suni sebagai variabelnya. Dan tidak menutup kemungkinan isu-isu tersebut akan dihembuskan pula di Indonesia.
Negeri ini sedang dipelihara potensi kerusuhannya sebagai senjata jika kelak Indonesia dipimpin oleh mereka yang tidak berpihak kepada kepentingan asing (zionis). Isu yang paling hangat sekarang ini adalah isu mazhab. Dengan senjata 'Syiah sesat' bergerilyalah pasukan-pasukan bayaran Wahabi dengan mensesatkan KH. Agil siradj, Umar Shihab, Dien Syamsudin. Tujuannya jelas, Wahabi sebagai mitra Zionis ingin menduduki organisasi besar Islam di Indonesia sehingga mudah membenturkan di kemudian hari. Isu 'Syiah sesat' memang dipelihara dengan sistematis. Apa yang terjadi di Bangil dan Sampang hanyalah trial and error. Kuat dugaan saya bahwa isu ini meski bersifat lokal, akan tetapi didesain secara global.
Kita harus mengetahui mapping konflik yang terjadi di Timur Tengah agar kita tidak mengira-ngira apalagi ikut-ikutan membenarkan opini yang dibuat pro Zionis. Menurut dokter Jose Rizal Jurnalis setidaknya ada dua faktor penyebab Timur Tengah diadikan proxy war oleh para adidaya terutama adidaya Barat. Kedua faktor tersebut adalah “geopolitic pipeline and geostrategy position”-nya di Jalur Sutera, jadi bukan peperangan akibat kuatnya isu sektarian, konflik agama, atau bentrok antar mazhab dalam agama, dan lain-lain, itu hanya modus false flag yang dimainkan Barat guna menutup hidden agenda sebagai tujuan pokok.
Tujuan pokoknya adalah sumber energi yang diperebutkan Barat dan mereposisi peta Israel di kawasan Timur Tengah. Zionis Yahudi ingin Israel Raya (Greater Israel) yang meliputi Suriah, Yordania, Irak, Mesir, dan Saudi Utara. Oleh karena itu pemerintah di negara-negara tersebut harus tunduk pada Israel dan Amerika Serikat atau sekedar jadi Pemerintah Boneka Zionis Yahudi.
"Arab Spring" sepertinya hanya gerakan untuk menjadikan Israel Raya jadi kenyataan. Libya yang sebelumnya anti Amerika dan Israel sudah jatuh. Suriah pun kini sedang dihancurkan. Mesir pun akan dilemahka pula, jika Mesir begitu lemah maka dengan mudah dapat ditaklukkan Israel.
Mantan panglima NATO Clark Wesley menyatakan bahwa Arab Spring adalah bagian skenario besar Amerika yang disebut Project for the New American Century (PNAC) proyek untuk abad baru Amerika. Jika Anda tertarik dengan teori konspirasi, tentu Anda sepakat jika PNAC ini tidak lain adalah upaya untuk membentuk sebuah tatanan dunia baru yang sekian lama mereka ingin wujudkan. Sebuah ungkapan yang mereka cantumkan dalam uang kertas satu dollar yang tidak pernah dirubah hingga sekarang yakni “Novus Ordo Seclorum”.
Gagasan terbentuknya Novus Ordo Seclorum oleh Zionis di Timur Tengah sejak 2011 melalui Arab Spring ternyata diluar dugaan mereka berakhir dengan kegagalan. Dalam kalkulasi mereka pada 2013 merupakan sejarah bagi mereka untuk mengikrarkan apa yang selama ini mereka impikan di kota Yerusalem. Dari kota inilah mereka ingin semua bangsa di dunia tunduk dan patuh pada ketetapan mereka. Karena dugaan ini meleset, maka mereka pun tak tinggal diam, mereka membentuk sebuah gerakan perlawanan bersenjata atas nama agama.
Menurut Uni Dina, kelompok-kelompok itu antara lain: kelompok yang lahir di Turki terdiri atas Syrian National Council (SNC) dan Free Syrian Army (FSA). Perlu kita ketahui, bahwa pada diri FSA bernaung milisi (sebagian menyebutnya ‘mujahidin’) termasuk al Qaida. Selain itu ada pula National Coalition for Syrian Revolutionary and Opposition Forces. Kelompok ini terbentuk di Doha, Qatar. Tak bisa dipungkiri, bahwa Ikhwanul Muslimin (IM) sebagai muslim moderat tergabung pada koalisi ini. Kelompok ini didukung oleh Qatar, Arab Saudi, AS, Inggris dan Prancis, koalisi negara-negara yang selama ini membiayai, mengirim senjata dan memfasilitasi para pasukan “jihad” dari berbagai negara seperti Arab, Libya dan lain-lain agar datang ke Suriah membantu FSA. Ada pun kelompk lain adalah kelompok berhaluan Hizbut Tahrir (HT) meski tidak mengatasnamakan HT akan tetapi mendapat dukungan berbagai cabangnya di dunia, termasuk HT dari Indonesia. Sikapnya mengecam koalisi yang dibentuk di Qatar. Kelompok ini meliputi Gabhat al Nousra, Ahrar Al Sham Kataeb, Liwaa al Tawhiid, dan Ahrar Souria. Ia cenderung memisah dengan kelompok lain dan mendeklarasikan bahwa perjuangannya dalam rangka membentuk khilafah di Suriah. Dan yang paling bengis kelompok yang dikenal sadis adalah ISIS. Anda mungkin sepakat dengan saya bahwa Zionis itu eksis karena adanya konflik. Untuk itulah api konflik Timur Tengah terus membara, apalagi kini Saudi dan beberapa negara yang tergabung dalam Liga Arab didukung Zionis menyerang Yaman.
Kembali pada tema sentral seperti yang dikatakan dr. Jose bahwa faktor proxy war di Timur Tengah Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa Suriah kini tengah merintis pembangunan pipa gas dari Irak dan Iran. Seandainya hal ini terwujud, maka Suriah akan sangat kaya dan bahkan kuat karena faktor fee atas geopolitic of pipeline dan geo-strategi posisi di Jalur Sutra. Hal yang sangat dikhawatirkan oleh Israel karena saluran pipa ke Mediterania mutlak harus melalui Suriah, walau outlet pipanisasi yang menuju Afrika Utara ada di Isreal dan outlet ke Eropa berada di Turki (Ceyhean), tetapi Suriah merupakan “titik simpul” dari semua pipanisasi minyak dan gas di Jalur Sutera. Sekali lagi, betapa dahsyatnya pemberdayaan geopolitik Suriah oleh Presiden Bashar al Assad.
Pada mapping geopolitik di Jalur Sutera telah jelas, bahwa Israel dan Turki yang ketempatan outlet saluran pipa Iran-Irak-Suriah sebagaimana penandatanganan nota di Bushehr, Iran, pada 25 Juni 2011 adalah sekutu dekat Paman Sam. Maka penggulingan rezim Assad adalah langkah pasti. Tak boleh tidak, harus!
Kita berhenti sejenak mengamati Timur Tengah dan kembali menengok pada perkembangan di Tanah Air. Seperti yang kami jelaskan di atas, bahwa bangsa ini tidak sepenuhnya bebas dari skenario besar Zionis Internasional. Ketika mereka terjebak dalam konflik di Timur Tengah, maka zona baru akan mereka temukan. Dan Asia Pasifik menjadi target operasi selanjutnya. Bung Karno telah mengingatkan kita bahwa "Kapitalisme yang terjebak krisis akhirnya membuahkan fasisme, sedang fasisme ialah perjuangan penghabisan para monopolis kapitalis yang terancam bangkrut". Sebuah seri baru perang kolonial untuk memulihkan sistem kapitalis global, demikian ungkapan mendiang Hugo Chaves dalam surat yang ditujukan pada PBB setelah Libya dibombardir NATO.
Sengketa kepulauan dan batas wilayah baik darat maupun laut bakal dijadikan isu pemicu sekaligus skenario utama dalam melancarkan seri baru penjajahan melalui taktik divide et impera. Adu domba negara-negara proxy. Sengketa laut China Selatan oleh beberapa negara di kawasan ASEAN menjadi sasaran tembak yang empuk guna melumpuhkan kawasan tersebut.
Indonesia memiliki SDA yang melimpah dan hal ini menjadi incaran banyak negara. Srategi yang pernah mereka terapkan di Timur Tengah tidak menutup kemungkinan akan diterapkan juga di Indonesia. Munculnya beragam organisasi radikal akhir-akhir ini, serta adanya upaya konflik horizontal melalui isu sektarian menambah kuat dugaan saya bahwa peta konflik akan bergeser ke Indonesia. Semoga anak negeri ini pandai menggunakan otak agar tak mudah terkotak! Semoga ..
Sumber : fb Daeng Gonzales Flores
Sumber : fb Daeng Gonzales Flores

0 Response to "ASIA PASIFIK SPRING 2020 "